Pages

Saturday, April 13, 2013

MAKALAH : PERKEMBANGAN EKOSISTEM


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

            Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dari luar, kesimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru.
Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman perintis sampai mencapai ekosistem klimaks disebut suksesi. Terjadinya suksesi dapat kita amati pada daerah yang baru saja mengalami letusan gunung berapi. Rangkaian suksesinya sebagai berikut.
Mula-mula daerah tersebut gersang dan tandus. Setelah beberapa saat tanah akan ditumbuhi oleh tumbuhan perintis, misalnya lumut kerak. Tumbuhan perintis ini akan menggemburkan tanah, sehingga tanah dapat ditumbuhi rumput-rumputan yang tahan kekeringan. Setelah rumput-rumput ini tumbuh dengan suburnya, tanah akan makin gembur karena akar-akar rumput dapat menembus dan melapukan tanah, juga karena rumput yang mati akan mengundang datangnya dekomposer (pengurai) untuk menguraikan sisa tumbuhan yang mati. Dengan semakin subur dan gemburnya tanah maka biji-biji semak yang terbawa dari luar daerah itu akan tumbuh, sehingga proses pelapukkan akan semakin banyak. Dengan makin gemburnya tanah, pohon-pohon akan mulai tumbuh. Kehadiran pohon-pohon akan mendesak kehidupan rumput dan semak sehingga akhirnya tanah akan didominasi oleh pepohonan. Sejalan dengan perubahan vegetasi, hewan-hewan yang menghuni daerah tersebut juga mengalami perubahan tergantung pada perubahan jenis vegetasi yang ada. Ada hewan yang datang dan ada hewan yang pergi. Komunitas klimaks yang terbentuk dapat berupa komunitas yang homogen, tapi dapat juga komunitas yang heterogen. Contoh komunitas klimaks homogen adalah hutan pinus, hutan jati. Contoh komunitas klimaks yang heterogen misalnya hutan hujan tropis.
Uraian diatas menunjukkan perkembangan dari suatu ekositem dimana didalamnya terjadi suksesi dan untuk mencapai mekanisme yang klimaks didalam ekosistem tersebut. Keberhasilan perkembangan ekosistem ini sangat dipengaruhi oleh organisme yang hidup di dalamnya, kelentingan ekosistem, dan daya dukung ekosistem.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dibuatlah makalah yang berjudul “Perkembangan Ekosistem”.

            Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagimanakah perbedaan antara habitat dan relung ekologis, kelentingan dan daya dukung ekosistem?
2.      Bagaimanakah konsep homeostatis ekosistem, suksesi dan mekanisme klimaks?
3.      Bagaimanakah keseimbangan ekositem dan penyebab gangguan keseimbangan ekosistem?
4.      Apakah dampak aktivitas manusia pada ekosistem?
5.      Bagimanakah kaidah-kaidah di dalam ekosistem?

            Adapun tujuan yang akan dicapai adalah :
1.      Untuk mengetahui perbedaan antara habitat dan relung ekologis, kelentingan dan daya dukung ekosistem.
2.      Untuk mengetahui konsep homeostatis ekosistem, suksesi dan mekanisme klimaks.
3.      Untuk mengetahui keseimbangan ekositem dan penyebab gangguan keseimbangan ekosistem.
4.      Untuk mengetahui dampak aktivitas manusia pada ekosistem.
5.      Untuk mengetahui kaidah-kaidah di dalam ekosistem.

            Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah :
1.      Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa dalam hal perkembangan ekosistem dan menyedari perannya didalam ekosistem.
2.      Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep dasar ekologi dan menelaah baik secara teoritis maupun praktek untuk memecahkan masalah lingkungan dalam upaya perbaikan dan konservasi.


1.      Habitat
Eksistensi dan penyebaran suatu spesies organisme di muka bumi ini di tentukan oleh habitat dan relung ekologi (niche). Habitat dan relung ekologi adalah dua istilah tentang kehidupan organisme yang memerlukan pemahaman yang mantap agar pemakaian kedua istilah itu tidak keliru.
Habitat merupakan tempat dimana organisme tertentu hidup dari pengaruh lingkungan luar, baik secara langsung maupun tidak langsung sedangkan niche adalah cara pandang atau propesi suatu organisme dalam habitatnya dimana propesi tersebut menunjukkan fungsi dari organisme tersebut di dalam suatu habitat. Habitat secara umum menunjukkan corak atau keragaman lingkungan yang ditempati populasi organisme, sedangkan relung ekologi menunjukkan dimana dan bagaimana kedudukan populasi organisme itu terhadap berbagai faktor abiotik dan biotik lingkungannya. Secara biologis, habitat seringkali diibaratkan sebagai “alamat” atau tempat tinggal suatu organisme, sedangkan relung ekologi diibaratkan sebagai “profesi” atau “status fungsional” suatu populasi organisme di alamatnya. Relung atau niche merupakan tempat makhluk hidup berfungsi di habitatnya, bagaimana cara hidup, atau peran ekologi makhluk hidup tersebut. Jadi pada dasarnya makhluk hidup secara alamiah akan memilih habitat dan relung ekologinya sesuai dengan kebutuhannya, dalam arti bertempat tinggal,tumbuh berkembang dan melaksanakan fungsi ekologi pada habitat yang sesuai dengan kondisi lingkungan (misalnya iklim), nutrien, dan interaksi antara makhluk hidup yang ada. Dalam ekologi,seluruh peranan dan fungsi makhluk hidup dalam komunitasnya dinamakan relung atau niche ekologi. Jadi relung ekologi merupakan semua faktor atau unsur yang terdapat dalam habitatnya yang mencakup jenis-jenis organisme yang berperanan, lingkungan, dan tempat tinggal yang sesuai dan spesialisasi populasi organisme yang terdapat dalam komunitas
Habitat makhluk hidup adalah tempat tinggal berbagai jenis organisme hidup melaksanakan kehidupannya. Dalam ekosistem yang menjadi habitatnya dapat bermacam-macam, seperti perairan,daratan, hutan atau sawah. Istilah habitat dapat berarti juga sebagai tempat tinggal atau tempat menghuni seluruh populasi atau komunitas makhluk hidup dalam ekosistem. Bagi tumbuhan dan makhluk hidup lainnya, sebagai habitat selain lokasi atau tempat yang bersifat fisik juga berbaga jenishubungan (asosiasi) yang terjadi dalam habitat tersebut. Pada umumnya tumbuhan dan makhluk hiduplainnya mempunyai preferensi ekologi (persyaratan faktor ekologi yang dibutuhkan untuk hidupnya yang sesuai) tertentu. Misalnya tumbuhan mangrove mempunyai preferensi ekologi habitat rawa payau di tepi pantai yang berlumpur dengan salinitas bervariasi sesuai dengan frekuensi, kedalaman danlumpur, dan ketahanan jenis mangrove terhadap arus dan ombak.
Berbagai jenis tumbuhan mempunyai habitat yang berbeda-beda, serupa atau sama sesuai dengan preferensi ekologinya. Berdasarkan kondisi habitatnya dikenal 2 tipe habitat, yaitu habitat mikrodan habitat makro. Habitat makro merupakan habitat bersifat global dengan kondisi lingkungan yangbersifat umum dan luas, misalnya gurun pasir, pantai berbatu karang, hutan hujan tropika, dansebagainya. Sebaliknya habitat mikro merupakan habitat local dengan kondisi lingkungan yang bersifatsetempat yang tidak terlalu luas, misalnya, kolam, rawa payau berlumpur lembek dan dangkal, danau,dan sebagainya.
Secara garis besar habitat di dalam biosfer dikenal ada 2 golongan utama, sebagai berikut:
a.     Habitat Teresterial (daratan)
b.    Habitat akuatik (air asin, air tawar, air payau)
Habitat berdasarkan lingkungan fisiknya, dikenal ada 4 tipe utama, yaitu:
-Habitat teresterial (daratan)                                 
-Habitat perairan tawar
-Habitat perairan estuaria (payau)                         
-Habitat perairan bahari
Masing-masing kategori utama itu dapat dibagi lagi tergantung corak kepentingannya atau mengenai aspek yang ingin diketahui.
2.      Kelentingan Ekosistem (Reselience)
Suatu sistem dalam ekosistem akan memberikan tanggapan terhadap suatu gangguan, baik gangguan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggapan ekosistem tersebut sesuai dengan keadaan kelentingan yang dimilikinya. Kelentingan merupakan sifat dari suatu sistem yang memungkinkannya kembali pulih seperti keadaan semula (stabilitas), bahkan untuk menyerap dan memanfaatkan gangguan yang menimbulkan dinamika atau perubahan kecil.
Gangguan kecil terhadap suatu sistem dapat diserap secara berangsur-angsur, terutama apabila tidak ada tanda-tanda akan munculnya suatu batas-batas bahaya. Dalam suatu sistem dengan kelentingan yang besar penyerapan gangguan itu akan mengubah stabilitas sistem ini. Sebaliknya sistem yang mempunyai kelentingan kecil, dapat berubah menjadi sistem baru.
3.      Daya Dukung (Carrying Capacity)
Batasan daya dukung yang berhubungan dengan populasi adalah jumlah individu atau populasi yang dapat didukung oleh satuan luas sumber daya dan ling-kungan yang dapat memberikan sumber daya dan lingkungan dalam keadaan se-jahtera.
Ekosistem yang kuat mempunyai daya dukung yang tinggi misalnya di lokasi yang landai dengan ketinggian yang rendah dari permukaan laut, suhu yang tinggi, tanah yang subur. Sebaliknya pada daerah daratan tinggi dengan suhu yang rendah, terjal dan tanah tidak subur, ekosistem tersebut daya dukungnya lebih rendah, rapuh dan mudah terganggu.
Daya dukung lingkungan merupakan batas teratas dari pertumbuhan suatu populasi, di batas mana jumlah populasi itu tidak lagi dapat didukung oleh sarana, sumberdaya dan lingkungan yang ada. Ada organisme yang mempunyai strategi hidup sangat memperhatikan daya dukung lingkungan, organisme tersebut mampu menekan jumlah individu populasinya apabila jumlahnya sudah mendekati batas da-ya dukung lingkungannya dimana mereka hidup. Namun juga ada organisme yang tidak peduli dengan batas daya dukung lingkungannya dan mereka akan berkem-bang biak menurut nalurinya saja.
Dalam pengelolaan margasatwa, konsep daya dukung dalam hal ini merupa-kan jumlah individu yang dapat di dukung oleh suatu habitat. Sedangkan dalam pe-ngelolaan peternakan adalah jumlah individu hewan ternak yang dapat didukung oleh habitat dalam keadaan sehat dan kuat.

1.      Homeostatis Ekosistem
Ekosistem merupakan tingkatan organisasi di alam yang lebih tinggi dari komunitas, atau merupakan kesatuan dari komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi hubungan keteraturan. Keteraturan ini terjadi oleh adanya arus siklus materi dan aliran energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem itu, dimana setiap komponen mempunyai fungsi. Keseimbangan itu tidak bersifat statis, melainkan dapat berubah-ubah (dinamis), perubahan ini dapat terjadi secara alamiah, maupun sebagai akibat perbuatan manusia. Keseimbangan dinamis tercapai akibat adanya proses pengaturan diri erhadap setiap perubahan dari energi dan materi yang masuk atau beredar dalam sistem
Dalam ekosistem terdapat suatu mekanisme keseimbangan yang dikenal dengan istilah homeostatis (steady state), yaitu kemampuan ekosistem untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Keseimbangan ini diatur oleh berbagai faktor yang rumit dan didalamnya termasuk mekanisme yang mengatur penyimpanan bahan-bahan, pelepasan hara makanan, pertumbuhan or-ganisme, produksi, dan dekomposisi bahan organik. Meskipun suatu ekosistem mempunyai daya tahan yang besar sekali terhadap perubahan, tetapi biasanya batas mekanisme homeostatis tersebut dengan mudah dapat diterobos oleh kegiatan ma-nusia. Sebagai contoh sungai yang menerima limbah dan sampah yang tidak terlalu banyak, maka sungai dapat menjernihkan kembali airnya secara alami, sehingga air sungai dianggap tidak tercemar. Tetapi bila limbah dan sampah yang masuk itu ba-nyak dan kontinyu, apalagi mengandung bahan beracun, maka batas homeostasis alami sungai akan terlampaui, sehingga mungkin saja sistem sungai tersebut tidak memiliki lagi sistem homeostasis alami dan secara permanen airnya berubah atau rusak sama sekali.
Ekosistem memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi manusia un-tuk dipelajari dalam mengelola dan pelestarian lingkungan. Informasi dalam hal ini dapat dirumuskan sebagai suatu simbol atau sebagai indikator tentang sesuatu yang terjadi atau yang ada di masa lalu, maupun di masa akan datang pada komponen ekosistem, baik secara individu maupun secara keseluruhan pada sistem itu. Sebagai contoh dari gejala alam yang memberikan informasi adalah :
-          Fosil yang terkandung dalam tanah dan batuan, memberikan informasi tentang masa lalu dari sistem tersebut.
-          Jejak telapak kaki dan kotoran gajah, memberikan informasi keberadaan gajah di ekosistem tersebut.
-          Adanya sinar merah pada saat matahari akan terbenam memberikan informasi pada manusia bahwa besok hari udara akan baik dan cerah.
-          Keberadaan organisme tertentu dalam ekosistem dapat dijadikan petunjuk, mi-salnya adanya kunang-kunang di suatu daerah menunjukkan adanya ekosistem tersebut padang rumput ataupun hutan mangrove.
-          Warna yang beraneka ragam pada hewan, misalnya kuning belang pada hari-mau, warna ular kuning berbintik hitam dll. Warna yang beraneka ragam mem-punyai maksud, dan memberi informasi kepada jenisnya maupun jenis lainnya, yang dapat menolong kedua belah pihak. Informasi tersebut ada yang maksud-nya untuk tidak mudah terlihat oleh musuhnya, agar mudah dikenal pasangan-nya, memberi peringatan harus dijauhi dan hati-hati. Warna ini juga memberikan informasi identitas dari spesies tertentu.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang telah ba-nyak digali dan ditemukan informasi yang berguna bagi manusia, misalnya dalam usaha pendeteksian menggunakan sistem radar, yang mencontoh dari sistem navi-gasi kelelawar dll.


2.      Suksesi
Perubahan komposisi dan struktur dalam komunitas dapat dengan mudah diamati atau terlihat dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain setelah beberapa gangguan, seperti kebakaran besar atau ledakan gunung berapi. Daerah yang terganggu itu bisa dikolonisasi oleh berbagai varietas spesies, yang secara perlahan-lahan digantikan oleh suatu komunitas spesies lain.
Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah yang berlangsung lambat secara teratur, pasti dan terarah serta dapat diramalkan disebut suksesi. Suksesi terjadi akibat modifikasi lingkungan fisik dan komunitas atau ekosistem, dan terjadinya faktor persaingan di antara satuan-satuan vegetasi menyebabkan perubahan ke arah tertentu.
Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).
Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim.
Interaksi dari semua faktor lingkungan yang berpengaruh akan menentukan komposisi jenis vegetasi komunitas. Dengan demikian keberadaan tegakan vegetasi akan bervariasi antar satu tipe dengan tipe lainnya bahkan terdapat variasi antar unit hu-tan. Faktor lingkungan yang membatasi jumlah spesies yang hidup pada suatu tahap suksesi dikenal ke dalam dua kategori, yaitu (Mueller (1974) :
ü  Faktor lingkungan yang mengakibatkan stres terdiri dari fenomena-fenomena yang membatasi hasil fotosintesa seperti cahaya, air, unsur hara tanah dan suhu;
ü  Faktor yang berhubungan dengan terjadinya kerusakan baik kerusakan sebagian maupun keseluruhan biomassa vegetasi seperti serangan hama, patogen atau manusia.
Umumnya komunitas tumbuhan terbentuk mulai dari tingkat pioner yang kemudian digeser oleh seri tumbuhan yang lebih dewasa sampai pada komunitas yang relatif stabil dan berada dalam keseimbangan dengan lingkungan setempat. Perubahan dalam suksesi bersifat kontinu, dimana rentetan suatu perkembangan dan pergantian komunitas merupakan suatu seri komunitas yang terbentuk pada keadaan tertentu disebut sere, dan komunitas yang sudah mencapai kemantapan dan permanen disebut klimaks. Proses suksesi yang berakhir dengan suatu komunitas atau ekosistem klimaks, dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari respon (tanggapan) yang terkoordinasi dari komponennya terhadap setiap rangsangan yang cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas.
Laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian menurun pada perkembangan berikutnya. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis tertentu. Dalam suksesi terjadi suatu proses perubahan secara bertahap menuju suatu keseimbangan. Clements menyusun urutan kejadian secara rasional ke dalam 5 fase, yaitu:
·         Fase 1. NUDASI : proses awal terjadinya pertumbuhan pada lahan terbuka/kosong.
·         Fase 2. MIGRASI : proses hadirnya biji-biji tumbuhan, spora dan lain-lainnya.
·         Fase 3. ECESIS : proses kemantapan pertumbuhan biji-biji tersebut.
·         Fase 4. REAKSI : proses persaingan atau kompetisi antara jenis tumbuhan yang telah ada/hidup, dan pengaruhnya terhadap habitat setempat.
·         Fase 5. STABILISASI: proses manakala populasi jenis tumbuhan mencapai titik akhir kondisi yang seimbang (equilibrium), di dalam keseimbangan dengan kondisi habitat lokal maupun regional.
Suksesi lebih lanjut tersusun atas suatu rangkaian rute perjalanan terbentuknya komunitas vegetasi transisional menuju komunitas dalam kesetimbangan. Clements memberi istilah untuk tingkat komunitas vegetasi transisi dengan nama SERE/SERAL, dan kondisi akhir yang seimbang disebut sebagai Vegetasi Klimaks. Untuk komunitas tumbuhan yang berbeda akan berkembang pada tipe habitat yang berbeda.
Beberapa ahli berpendapat bahwa proses suksesi selalu progresif (selalu meng-alami kemajuan), sehingga membawa pengertian ke dua hal :
a.       Pergantian progresif pada kondisi tanah (habitat) yang biasanya pergantian itu dari habitat yang ekstrim ke optimum untuk pertumbuhan vegetasi.
b.      Pergantian progresif dalam bentuk pertumbuhan (life form).
Namun demikian perubahan-perubahan vegetasi tersebut bisa mencakup hilangnya jenis-jenis tertentu dan dapat pula suatu penurunan kompleksitas struktural sebagai akibat dari degradasi setempat. Keadaan seperti itu mungkin saja terjadi mi-salnya hilangnya mineral dalam tanah. Perubahan vegetasi seperti itu dapat dikatakan sebagai suksesi retrogresif atau regresi (suksesi yang mengalami kemunduran).
Konsep lama tentang suksesi menyatakan bahwa suksesi berlangsung secara teratur, pasti, terarah, dapat diramalkan, dan berakhir dengan komunitas klimaks, konsep ini masih diterima. Sedangkan menurut konsep mutakhir, suksesi ini tidak lebih dari pergantian jenis-jenis pionir oleh jenis-jenis yang lebih mantap dan dapat menyesuai-kan secara lebih baik dengan lingkungannya.
Suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses terjadinya suksesi.
a.       Suksesi primer (Primary succession)
Suksesi primer merupakan suatu tahapan perubahan komunitas biotik ke komunitas biotik  lain, yang dimulai dengan kehadiran tumbuhan pioner disuatu tempat berbatu yang belum pernah dijumpai adanya komunitas biotik tersebut sebelumnya, kemudian menjadi ekosistem hutan klimaks (climax forest ecosystem). Terjadi bila komunitas asal mengalami gangguan berat sekali, sehingga mengakibatkan komunitas asal hilang secara total, dan di tempat komunitas asal terbentuk ko-munitas lain di habitat baru tersebut.
Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal tertinggal, gangguan ini dapat terjadi secara alami seperti letusan gunung api, tanah longsor, endapan lumpur dimuara sungai, endapan pasir di pantai, maupun akibat aktivitas manusia seperti pertambangan, dll. Pada habitat tersebut secara perlahan, searah, dan pasti akan berkembang menuju suatu komunitas yang klimaks dalam waktu lama, proses ini disebut suksesi primer. Proses suksesi primer ini membutuhkan waktu yang lama sampai ratusan tahun.
Suksesi primer dimulai di atas bongkahan batu pada pulau yang baru timbul, delta yang baru terbentuk, danau baru dan sebagainya. Pelapukan batu-batuan pada ekosistem yang rusak total karena pengaruh iklim (hari panas, kering dan waktu hujan, dingin atau basah), mengandung bahan unsur mineral dan organik yang dapat ditumbuhi oleh tetumbuhan pioner (lumut kerak dan algae). Pengaruh iklim te-us berlangsung hingga bahan mineral dan bahan organik semakin tebal sehingga dapat ditumbuhi oleh tumbuhan herba dan tahunan. Jika jalannya suksesi dipengaruhi atau ditentukan oleh iklim disebut dengan klimaks-klimatis. Jika dipengaruhi oleh habitat / tanah disebut klimaks edaphis. Tumbuhan atau organisme yang mampu menghuni untuk pertama kalinya substrat yang baru digolongkan sebagai organisme pionir yang mempunyai toleransi besar terhadap berbagai faktor lingkungan yang ekstrim.
Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuk-nya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (likenes) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karma aktivitas peng-uraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi seba-liknya. Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns meng-adakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terben-tuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu.
b.     Suksesi sekunder
Proses suksesi sekunder relatif sama dengan yang terjadi pada suksesi primer. Perbedaannya terletak pada keadaan kerusakan dan kondisi awal dari habitatnya. Terjadinya gangguan menyebabkan komunitas alami tersebut rusak baik secara alami maupun buatan, dimana gangguan tersebut tidak merusak total komunitas dan tempat hidup organisme sehingga substrat lama (substrat tanah sudah terbentuk sebelumnya), masih ada komunitas awal yang tersisa. Maka pada substrat tersebut terjadi perkembangan komunitas yang selanjutnya disebut suksesi sekunder. Proses kerusakan komunitas disebut denudasi, yang dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, banjir, gelombang laut, penebangan hutan, dan kegiatan-kegiatan biotis lainnya menyebabkan vegetasi asal musnah. Proses suksesi se-kunder ini membutuhkan waktu sampai puluhan tahun.
Pada suksesi sekunder benih ataupun biji-biji bukan berasal dari luar tetapi dari dalam habitat itu sendiri. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, angin kencang dan gelombang laut (tsunami) secara alami dan penebangan hutan secara selektif, pembakaran padang rumput secara sengaja dan kegiatan biotis menyebabkan vegetasi asal musnah. Contoh seperti tegalan, semak belukar bekas ladang, padang alang-alang dan kebun karet dan kebun kelapa sawit yang ditinggalkan, adalah sebagian dari contoh komunitas sebagai hasil dari contoh ko-munitas sebagai hasil suksesi. Komunitas ini masih mengalami perubahan menuju kearah komunitas klimaks, kecuali bila dalam proses tersebut terjadi lagi gangguan, maka suksesi akan mundur lagi dan mulai kembali dari titik nol. Penelitian di dekat Samarinda, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa pembentukan padang alang-alang terjadi hanya dalam waktu 4 tahun setelah penebangan hutan primer atau hutan klimaks, memperlihatkan perubahan yang terjadi setelah ditebang habis dan kemudian dibakar setiap tahun untuk dijadikan ladang padi.
Proses pergantian antar tingkat dalam suksesi primer untuk mencapai klimaks, dapat membutuhkan waktu puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun. Sedangkan waktu yang dibutuhkan suksesi sekunder lebih cepat dibandingkan dengan suksesi primer. Tingkat perubahan komunitas berlangsung dalam periode pendek dengan perkem-bangan yang cepat, hal ini disebabkan habitat (tanah dan air) sudah terbentuk untuk menyokong pertumbuhan vegetasi. Proses yang terjadi selama proses suksesi dapat diringkaskan sebagai berikut :
-      Perkembangan sifat substrat atau tanah yang progresif, misalnya terjadinya pertam-bahan kandungan bahan organik sejalan dengan perkembangan komunitas yang semakin kompleks dengan komposisi jenis yang lebih beraneka ragam daripada sebelumnya.
-      Semakin kompleksnya struktur komunitas, peningkatan kepadatan, dan tingginya tumbuhan, sehingga dalam komunitas terbentuk stratifikasi.
-      Peningkatan produktifitas sejalan dengan perkembangan komunitas dan perkem-bangan tanah.
-      Peningkatan jumlah jenis sampai pada tahap tertentu dari suksesi.
-      Peningkatan pemanfaatan sumber daya lingkungan sesuai dengan peningkatan jumlah jenis.
-      Perubahan iklim mikro sesuai dengan perubahan komposisi jenis bentuk hidup (life form) tumbuhan dan struktur komunitas.
-      Komunitas berkembang menjadi lebih kompleks.
Kecepatan proses suksesi pada suatu komunitas atau ekosistem dipengaruhi oleh faktor, antara lain :
-      Luasnya komunitas asal yang rusak karena gangguan
-      Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu
-      Kehadiran tumbuhan pemencar biji dan benih
-      Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membawa bjiji, spora dan benih la-in, serta curah hujan yang mempengaruhi perkecambahan biji dan spora dan per-kembangan semai selanjutnya.
-      Macam atau jenis substrat baru yang terbentuk
-      Sifat-sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
Jika vegetasi yang ada kemudian musnah dan timbul lahan kosong disebut la-han sekunder atau lahan terdenudasi. Suksesi sekunder mempunyai tahap yang lebih sedikit daripada suksesi primer, dan biasanya klimaks pada suksesi sekunder lebih cepat dicapai.
Sebaliknya proses suksesi primer berjalan lambat, hal ini disebabkan oleh ke-adaan iklim batuan yang kering yang disertai belum terbentuknya tanah. Karenanya hanya tumbuhan tertentu yang dapat hidup pada keadaan tersebut. Spesies pertama hidup di atas habitat yang belum pernah ditumbuhi tumbuhan disebut tumbuhan pioner, contoh lumut. Tumbuhan lumut umumnya sangat sedikit pengaruhnya dalam penghan-curan bongkah batuan menjadi tanah. Lumut dan tumbuhan berpembuluh merupakan penyokong terbesar dalam pembentukan tanah dan vegetasi.
-          Ada beberapa macam tipe suksesi berdasarkan habitatnya yaitu:
a)      Hidrosere
Tipe suksesi yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch. Vegetasi yang sering berganti dalam hidrarch disebut hidrosere. Tipe suksesi ini tidak selalu memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke perkem-bangan komunitas daratan. Jika air yang ada dalam jumlah cukup besar dan sangat dalam atau jika air selalu bergerak kuat (gelombang) atau adanya kekuatan fisik lain, suksesi menghasilkan suatu komunitas aquatik yang stabil dan sukar meng-alami pergantian.
b)      Halosere
Suksesi yang dimulai pada tanah bergaram atau air asin, biasanya dimulai dari jenis tumbuhan yang tahan kadar garam tinggi, seperti Spindifec, Ipomea pescapre dll.
c)      Xerosere 
Suksesi vegetasi yang berkembang pada daerah xerik (kering), disebut Xerarch. Suksesi xerik biasanya terjadi pada lahan yang tinggal batuan induknya saja. De-ngan demikian tumbuhan yang mampu hidup disitu hanyalah tumbuhan yang ta-han kering dan mampu hidup di tanah miskin.
Beberapa faktor penyebab suksesi baik alami maupun tidak alamai atau buatan berikut ini adalah :
a.       Iklim : tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang membawa akibat rusaknya ve-getasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan meng-ubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa ke-adaan yang tidak menguntung-kan pada vegetasi.
b.      Topografi : suksesi terjadi karena perubahan kondisi tanah, antara lain :
·         Erosi : erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan ak-hirnya proses suksesi dimulai.
·         Pengendapan (sedimentasi) : erosi yang melarutkan lapisan tanah, disuatu tem-pat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat ter-sebut.
c.       Biotik : pemakan tumbuhan seperti serangga yang menjadi pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi.
d.      Bencana Alam : peristiwa bencana alam dapat menghilangkan semua jenis mahluk hidup disuatu tempat atau hanya menghilangkan sebagian, demikian pula pada ha-bitat. Kemudian di habitat yang baru secara perlahan muncul komunitas baru kembali.
3.      Konsep Klimaks
Tingkat akhir dari suksesi suatu komunitas tumbuhan, adalah tercapainya keseimbangan dengan keadaan lingkungan. Jadi pada tingkat ini hubungan langsung antara tumbuhan dengan lingkungannya telah mencapai suatu stabilisasi. Tumbuhan lain yang datang bermigrasi ke dalam komunitas tumbuhan itu tidak akan mudah mendapatkan tempat yang sesuai untuk perkembangannya.
Beberapa ciri komunitas klimaks antara lain adalah sebagai berikut.
1)      Mampu menyokong kehidupan seluruh spesies yang hidup di dalamnya.
2)      Mengandung lebih banyak makhluk hidup dan macam – macam bentuk interaksi dibandingkan komunitas suksesional.
            Jika berubah habitat menjadi ekstrem, sehingga tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya tumbuhan awal maka akan digantikan oleh tumbuhan lainnya yang sesuai dengan lingkungan yang baru, kemudian tumbuhan sehingga tumbuhan baru bisa menjadi dominan. Setelah beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi oleh spesies-spesies yang telah teradaptasi dan mampu bereproduksi dengan baik, hal inilah yang disebut suatu kimunitas telah mencapai komunitas klimaks yang matang, dapat memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian itu relatif sangat lambat.
Di dalam kondisi klimaks ini spesies-spesies dapat mengatur dirinya sendiri dan dapat mengolah habitat sedemikian rupa sehingga cenderung untuk melawan invasi baru. Di dalam konsep klimaks ini Clements berpendapat:
1.      Suksesi dimulai dari kondisi lingkungan yang berbeda, tetapi akhirnya punya klimaks yang sama.
2.      Klimaks hanya dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu, sehingga klimaks dengan iklim itu saling berhubungan, kemudian klimaks ini disebut Klimaks Klimatik.
3.      Setiap kelompok vegetasi masing-masing mempunyai klimaks.
Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat dikatakan bahwa klimaks klimatik akan tercapai pada saat kondisi fisik di sub stratum tidak ekstrem untuk terjadinya perubahan terhadap keadaan iklim di suatu wilayah. Terkadang klimaks dimodifikasi begitu besar oleh kondisi fisik tanah seperti topografi dan kandungan air, klimaks seperti ini disebut Klimaks Edafik. Secara relatif vegetasi dapat mencapai kestabilan lain dari klimatik di suatu wilayah, hal ini disebabkan adanya faktor edafik yang mempunyai karakteristik yang tersendiri.
            Adakalanya vegetasi terhalang untuk mencapai klimaks, oleh karena beberapa faktor selain iklim. Misalnya adanya penebangan, penggembalaan ternak, keterge-nangan dan lain-lain. Dengan demikian vegetasi dalam tahap perkembangan yang ti-dak sempurna (tahap sebelum klimaks) baik oleh faktor alam atau buatan, keadaan ini disebut Sub Klimaks. Komunitas tanaman sub klimaks akan cenderung untuk mencapai klimaks sebenarnya jika faktor penghalang/penghambat dihilangkan.
            Gangguan terhadap modifikasi klimaks yang sebenarnya dapat menyebabkan terbentuknya sub klimaks yang berubah (termodifikasi), dan keadaan ini disebut Disklimaks (Ashby, 1971). Sebagai contoh vegetasi terbakar menyebabkan tumbuh dan berkembangnya vegetasi yang sesuai dengan tanah bekas terbakar tersebut. Odum (1971) mengistilahkan klimaks tersebut dengan pyrix klimaks. Tumbuhan yang dominan pada pyrix klimaks misalnya antara lain : Melastoma polyanthum, Macaranga sp, dan Melaleuca leucadendron. Jika pergantian iklim secara temporer menghentikan perkembangan vegetasi sebelum mencapai klimaks yang diharapkan maka disebut Pre Klimaks
Pada keadaan iklim dimana vegetasi dilindungi dari manusia, penyakit, serangga dan api, maka kecambah yang tumbuh akan hampir sama jenisnya dengan vegetasi dominan. Vegetasi berada dalam keadaan seimbang dengan iklim, tanah dan hewan herbivora. Semua unsur-unsur lingkungan tidak berubah, bentuk vegetasi dengan pola jenis-jenis utamanya akan tetap demikian. Vegetasi yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan lingkungannya, kemungkinan masuknya jenis lain hampir tidak ada, karena bekerja faktor-faktor pembatas, sedangkan pertumbuhan vegetasi dikendalikan oleh pengaruh dari faktor-faktor pembatasnya untuk vegetasi tertentu. Vegetasi yang demikian sekarang dikatakan berada dalam keadaan klimaks.
Tingkat akhir dari perkembangan komunitas tumbuhan ini disebut “klimaks”. Ada dua pendapat mengenai bagaimana klimaks ini dapat dicapai oleh suatu komunitas tumbuhan, yaitu :
1.      Teori Monoklimaks
Berpendapat bahwa tiap daerah hanya mengalami satu kali klimaks saja. Ekolo-giawan pioner seperti Braun-Blanquet dan Clements mengatakan bahwa klimaks itu adalah perkembangan suatu vegetasi dan pembentukan tanah yang telah mencapai titik akhir setelah dipengaruhi dan ditentukan oleh faktor iklim. Konsep ini disebut konsep “monoklimaks”, sebab disini hanya satu faktor alam saja yang ditonjolkan dan dianggap memegang peranan penting, yaitu faktor iklim.  Dalam konsep monoklimaks, Clements memperkenalkan pula beberapa istilah yang berhubunga de-ngan tingkat-tingkat vegetasi dalam mencapai klimaks. Istilah itu hanya menun-jukkan saja kesukaran menentukan klimaks dalam skala waktu.
-      Subklimaks : tingkat yang hampir berakhir dari suatu suksesi tetapi tetap bertahan dalam keadaan tersebut dalam masa yang panjang, dan pada akhirnya tercapai juga tingkat klimaksnya.
-      Disklimaks : yang berubah setelah tercapainya klimaks disebabkan adanya gangguan terhadap alam lingkungan.
-      Postklimaks dan preklimaks : perubahan iklim menurut garis lintang bumi me-nimbulkan perubahan vegetasi meskipun kurang jelas. Bila terjadi suatu fluktuasi keadaan iklim, maka akan timbul pula perubahan pada vegetasinya. Misalnya, bila iklim berubah menjadi dingin dan lebih basah dari kondisi biasa menimbulkan postklimaks. Sedangkan bila keadaan menjadi lebih hangat dan kering akan menimbulkan vegetasi yang preklimaks.
2.      Teori Poliklimaks
Berpendapat bahwa semua komunitas dalam daerah iklim tertentu tidak mencapai klimaks yang sama, hal ini dipengaruhi kedaaan fisik habitat bervariasi. Odum dan para ahli ekologi lainnya, terutama angkatan lebih muda berpendapat bahwa klimaks merupakan suatu komunitas tumbuhan yang telah mencapai tingkat akhir dan stabil, setelah mencapai atau melampaui seri-seri suksesi, kestabilan dan peng-abadian komunitas tumbuhan. Tercapainya pengabadian karena komunitas tum-buhan telah dapat menyesuaikan dengan satu atau beberapa faktor alam. Oleh karena itu, konsep terakhir ini disebut “polyklimaks”.
3.      Konsep Whittaker (1953)
Menyatakan bahwa sebetulnya tidak ada klimaks yang mutlak untuk tiap habitat, susunan klimaks mempunyai arti yang relatif untuk suatu keadaan lingkungan dan untuk semua faktor-faktor ekosistem yang ada. Sehingga baik monoklimaks dan poliklimaks tidak memenuhi kriteria sesuai dengan kenyataan, karena klimaks me-rupakan suatu keadaan seimbang dari produktivitas, struktur dan populasi dengan keseimbangan dinamis dari populasi-populasi yang menentukan. Keanekaragaman vegetasi klimaks tergantung dari keanekaragaman lingkungan dan macam populasi yang ada. Keseimbangan di antara pergantian populasi dengan perubahan-per-ubahan dalam lingkungan, dan vegetasi klimaks merupakan suatu pola dari popu-lasi yang berhubungan dengan pola penurunan lingkungan
4.      Teori informasi (Odum 1971)
Dikemukakan oleh Odum yang merupakan jalan tengah antara teori mooklimaks dan teori poliklimaks. Odum berpendangan bahwa suatu komunitas baik hewan maupun vegetasi selalu memerlukan enersi dan informasi dan pada saatnya akan menghasilkan energi dan informasi. Suatu sistem berkembang, pada permulaannya memerlukan energi dan informasi sehingga disebut sistem tersubsidi. Pada suatu saat setelah dewasa akan menghasilkan enersi dan informasi. Sistem ini dikatakan mencapai klimaks bila perbandingan masukan dan keluaran energi dan informasi sama dengan satu atau hasil energi dan informasi sama besar dengan masukan energi dan informasi, sistem yang demikian ini oleh Odum disebut Klimaks.
Kedua konsep / teori monoklimaks dan poliklimaks memiliki perbedaan, dima-na yang satu hanya menekankan kontrol dari alam lingkungan terhadap vegetasi kli-maks itu kepada satu faktor alam saja yaitu iklim, sedangkan yang lainnya menganggap bahwa tidak hanya iklim saja yang dapat menentukan klimaks dari suatu vegetasi itu, tetapi mungkin juga faktor-faktor alam lainnya, seperti faktor tanah, faktor biotik dll.
Sangat sukar untuk memberi batasan pada apa yang disebut stabilisasi komu-nitas tumbuhan yang telah mencapai klimaks tanpa mempertimbangkan soal waktu. Persoalannya sekarang adalah suatu batas waktu tertentu untuk membedakan komu-nitas-komunitas yang masih mengalami suksesi dan sudah mencapai klimaks. Bila di-ukur dengan waktu geologi yang panjang dimana iklim selalu berubah-berubah, ve-getasi dimuka bumi dapat dikatakan tidak pernah mencapai klimaks dan selalu dalam keadaan suksesi. Kalau demikian adakah vegetasi yang mencapai klimaks. Dalam hal ini kita perlu meninjau masalah klimaks ini dalam ukuran waktu yang relatif, bukan dalam ukuran waktu yang absolut. Hanya dengan cara begitu maka konsep klimaks ini ada manfaatnya bagi ilmu pengetahuan.
Aspek yang sangat jelas dari pengertian klimaks secara teoritis adalah harus di-tinjau dari sudut kecepatan perubahan dalam bentuk suksesinya. Pada tingkat-tingkat permulaan suksesi tumbuhan, biasanya perubahan bentuk dan komposisi tumbuhan relatif cepat sekali. Makin tua umur suksesi makin lama pula perubahan-perubahan ve-getasi terjadi. Kemudian kalau dapat diperkirakan bahwa perubahan yang lama ini ka-rena vegetasi itu telah mengarah kepada penyesuaian terhadap alam lingkungan (iklim bagi konsep monoklimaks atau aneka ragam faktor alam bagi konsep poly-klimaks), maka perubahan itu memang akan berhenti dalam bentuk vegetasi klimaks.

C. Gangguan dan Ketidakseimbangan Ekosistem

            Dalam suatu ekosistem mempunyai keteraturan, berwujud sebagai kemampuan untuk memelihara diri sendiri, mengatur sendiri atau menahan berbagai perubahan serta mengadakan keseimbangan kembali, kecuali jika secara serius terganggu oleh aktivitas manusia. Fokus pandangan “keseimbangan alami” ini adalah pendefinisian faktor-faktor, terutama interaksi antar spesies yang kelihatannya memeperhatikan stabilitas dalam komunitas yang dapat mengembalikan stabilitas ke daerah yang terganggu. Stabilitas dalam konteks ini adalah kecenderungan suatu komunitas untuk mencapai dan mempertahankan suatu keseimbangan atau kondisi yang relatif konstan dalam menghadapi gangguan.
            Gangguan terhadap ekosistem dapat diakibatkan oleh alam dan aktivitas manusia. Gangguan seringkali menciptakan kesempatan bagi spesies-spesies sebelumnya tidak menempati habitat tersebut untuk memantapkan dirinya disitu. Banyak hewan merupakan penyebab gangguan komunitas, gundulnya padang rumput dan hutan dapat disebabkan oleh hewan-hewan seperti rusa, jerapah, gajah, sapi dan kelompok herbivora lainnya akibat terjadinya perumputan (over grassing), Gangguan ini bahkan disebabkan oleh aktivitas manusia, yang dapat memiliki dampak paling besar pada komunitas secara keseluruhan di muka bumi.
            Penebangan dan pembukaan hutan untuk pengembangan perkotaan, pertambangan dan pertanian telah mengurangi hamparan hijau yang sangat luas menjadi kumpulan-kumpulan kecil rumpun pepohonan yang tidak saling berhubungan dibanyak tempat di dunia ini sehingga mempertinggi gejala efek api. Gangguan manusia umumnya mengurangi keanekaragaman spesies dalam komunitas. Gangguan dapat mempengaruhi struktur komunitas pada hampir semua skala. Gangguan skala kecil seringkali meningkatkan ketidakseragaman lingkungan yang dapat sangat penting bagi pemeliharaan keanekaragaman spesies dalam satu komunitas.

D. Dampak Aktivitas Manusia Terhadap Ekosistem

            Ketika populasi manusia tumbuh hingga mencapai suatu jumlah yang sangat besar, aktivtas dan kemampuan teknologi kita dan lain hal telah mengganggu dinamika sebagian ekosistem di biosfer. Bahkan saat kita masih belum secara sempurna merusak suatu sistem alamiah, tindakan kita telah mengganggu struktur tropik, aliran energi, dan siklus materi ekosistem pada sebagian besar wilayah dan daerah disunia. Pengaruh itu kadang bersifat lokal atau regional, akan tetapi dampak ekologis manusia dapat menyebar luas atau bahkan secara global.
      1.      Perusakan Hutan
Hutan menurut undang-undang nomor 41 tahun 1999 adalah suatu kawasan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan sebagai sekumpulan ekosistem dimana saling berhubungan erat antara hutan dan lingkungan baik itu berupa pepohonan, benda-benda hayati dan non hayati, lingkungan pendukung (jasa) dimana semua yang ada diatas selalu saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Hutan secara keseluruhan merupakan kumpulan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya.Keanekaragaman hayati dalam suatu kawasan hutan alam terdapat beragam jenis pepohonan, umur yang beragam dan tingkat kerapatan yang tidak teratur dan pertumbuhan.
Faktor-faktor penyebab kerusakan hutan yaitu sebagai berikut  adalah ilegal logging (penebangan liar), kebakaran hutan, perambahan hutan, program pembangunan, serta serangan hama dan penyakit. Selain faktor-faktor tersebut adanya Kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada lingkungan misalnya, dalam penyusunan tata ruang, yang seharusnya suatu lahan itu adalah kawasan hutan, menjadi kawasan pertanian, pemukimam dan lain-lain juga menjadi faktor penyebab kerusakan hutan.
2. Pencemaran Tanah
Definisi dan Pengertian dari Pencemaran tanah adalah kerusakan lapisan tipis bumi yang bermanfaat yaitu tanah produktif untuk menumbuhkan tanaman sebagai sumber bahan makanan.Tanpa tanah yang subur, petani tidak bisa bercocok tanam dan menghasilkan makanan untuk orang di seluruh dunia.
Tanah yang subur dipengaruhi juga oleh organisme seperti bakteri, jamur, dan organisme lain yang menguraikan limbah dalam tanah dan menyediakan unsur hara. Unsur hara memberikan pertumbuhan bagi tanaman.Pupuk dan pestisida dapat membatasi kemampuan organisme tanah untuk menguraikan limbah.Akibat penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan dapat merusak produktivitas tanah.
Oleh hasil pembuangan limbah yang mengandung bahan-bahan anorganik yang sukar terurai dalam tanah seperti plastik, kaca, dan kaleng. Bahan-bahan ini sukar diuraikan oleh organisme dan mengakibatkan produktivitas tanah akan berkurang.
Jika limbah atau sampah yang dibuang mudah terurai oleh mikroorganisme, bahan-bahan itu akan mengalami proses pembusukan kemudian terurai dan menyatu dengan tanah sehingga tidak menimbulkan pencemaran.
Dampak langsung akibat limbah yang dirasakan manusia adalah timbulnya bau yang tidak sedap dan kotor. Dampak yang tidak langsung diantaranya tempat pembuangan limbah dapat menjadi tempat berkembangnya organisme penyebab penyakit.Organisme ini dapat menyebabkan pernyakit ataupun hanya sebagai vektor (pembawa) penyakit yang merugikan manusia. Adapun penyakit yang dapat berkembang pada daerah berlimbah yang tidak terjada sanitasinya seperti pes, kaki gajah, malaria, demam berdarah ataupun penyakit yang lain.
3. Pencemaran Air
Air biasanya disebut tercemar ketika terganggu oleh kontaminan antropogenik dan ketika tidak bisa mendukung kehidupan manusia, seperti air minum, dan/atau mengalami pergeseran ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung komunitas penyusun biotik, seperti ikan. Fenomena alam seperti gunung berapi, algae blooms, badai, dan gempa bumi juga menyebabkan perubahan besar dalam kualitas air dan status ekologi air.
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
·         Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
·         Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
·         Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.  Seperti limbah pabrik yg mengalir ke sungai seperti di sungai citarum
·         Pencemaran air oleh sampah
·         Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan
Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran air  antara lain yaitu dapat menyebabkan banjir, erosi,  kekurangan sumber air, dapat membuat sumber penyakit, tanah longsor, dapat merusak ekosistem sungai, dan kerugian untuk Nelayan.
4. Pencemaran Udara
Pencemaran udara diakibatkan oleh gas yang dikeluarkan oleh idusttri, kendaraan bermotor, dan kegiatan rumahtangga. Gas-gas tersebut berupa gas hasil pembakaran fosil (minyak bumi, batu bara) dan pengguna gas berbahaya, misal gas CFC (klorofluorokarbon).
a) Gas Hasil Pembakaran
Hasil pembakaran fosil (minyak bumi, batu bara) berupa gas buangan dalam bentuk gas karbon dioksidaCO2 dan belerang dioksida (SO, SO2). CO2  dikeluarkan oleh pabrik, mesin, mobil, sepeda motor, kom[por minyak, pesawat terbang, dan pembakaran kayu. Dengan semakin besarnya populasi manusia dan semakin meningkatnya kesejahteraann, akan meningkatkan pembakaran yang mengakibatkan gas buangan CO2 semakin besar. Pencemaran udara di perkotaan dan daerah industri lebih tinggi daripada di pedesaan.
Meningkatnya CO2 di udara dapat menyebabkan efek rumah kaca.Pada sketsa efek rumahkaca yang dibandingkan dengan kondisi yang dialami oleh planet ini.Bumi diselubungi oleh CO2 dan gas-gas pencemaran lainnya, seolah-olah bumi yang diselubungi kaca.Pana matahari yang mencapai permukaan bumidipantulkan ke angkasa.Akan tetapi, karana bumi diselubungi gas pecemaran ini menyebabkan panas matahari terperangkap sehingga suhu bumi meningkat.Peningkatan suhu bumi dikenal dengan istilah pemanasan global.
Dampak dari meningkatnya suhu bumi adalah terjadi perubahan iklim dan es di kutub mencair. Jika ini terjadi, permukaan air laut akan meningkat dan beberapa pentai akan tenggelam.
Meningkatnya belerang oksida (SO, SO2) dapat meninggalkan hujan asam. Gas-gas  tersebut dengan air hujan membentuk asam sulfat, menyebabkan air hujan bersifat asam. Hujan asam mengakibatkan tumbuhan mati, organisme telah mati, besi dan logam berkarat sehingga membahayakan bangiunan dan jembatan. Akibat yang lain ialah kerusakan bangunan sejarah, seperti candi. Hujan asam membuatnya cepat kropos dan rusak. (gambar pohon mati karena hujan asam).
b) Gas CFC
CFC (klorofluorokarbon) merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun. Gas inni banya digunak sebagai gas pengembang (pembuat karet busa), pendingin (AC, kulkas), dan menyemprot (hair spray parfum). Semaki banyaknya penggunaan CFC akan menyebabkan semakin banyak gas tersebut yang terlepas ke udara dan mencapai lapisan stratosfer.
Di stratosfer terdapat gas Ozone (O3) yang merupakan lapisan pelindung bumi dari cahaya  ultraviolet. Adanay lapisan ozone menyebabkan cahaya ultraviolet terpantul ke ruang angkasa dan hanya sebagian kecil yang mencapai bumi.
Gas CFC ddi stratosfer dapat bereaksi dengan gas Ozone dan menyebabkan Ozone berkurang sehingga terbentuk lubang ozone. Melalui lubang ozone teersebu, cahaya ultrsviolet mencapai bumi dan mengakibatka tumbuhan menjadi kerdil, alga di laut  punah, terjadi mutasi genetic  (perubahan sifat organisme), menyebabkan kanker kulit dan mata. Menurut pengamatan, lobang ozone angg terjadi diatas kutub selatan semakin meluas.
4. Pencemaran Suara
Pencemaran suara dapat ditimbulkan oleh adanya suara bising yang disebabkan oleh suara mesin pabrik, mesin penggilingan padi, mesin las, pesawat, kendaraan bermotor yang berlalu-lalang, dan suara kereta api sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep 48/MENLH/11/1996 tentang baku tingkat kebisingan menyebutkan bahwa kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.
Suara-suara bising ini dapat menyebabkan terganggunya pendengaran manusia. Selain itu, lama-kelamaan suara bising ini akan menimbulkan berbagai keluhan pada tubuh kita, misalnya, pusing, mual, jantung berdebar-debar, sulit tidur, badan kaku, dan naiknya tekanan darah.

E. Kaidah-Kaidah dalam Ekosistem.

             Di dalam ekosistem interaksi makhluk hidup (biotik) dengan lingkungannya (abiotik) akan mengikuti kaidah-kaidah alam sebagai berikut :
1.  Suatu Ekosistem diatur dan dikendalikan secara ilmiah
2.  Suatu Ekosistem mempunyai daya kemampuan yang optimal dalam keadaan berimbang. Di atas kemampuan tersebut ekosistem tidak lagi terkendali, dengan akibat menimbulkan perubahan perubahan lingkungan atau krisis lingkungan dan tidak lagi dalam keadaan lestari.
3.   Terdapat interaksi antara seluruh unsur-unsur lingkungan yang saling mempengaruhi dan bersifat timbal balik.
4.   Interaksi terjadi antara : Komponen biotis dengan komponen abiotis, Sesama komponen biotis, Sesama komponen-komponen abiotis
5.   Interaksi itu senantiasa terkendali menurut suatu dinamika yang stabil, untuk suatu optimum mengikuti setiap perubahan yang dapat ditimbulkan terhadapnya dalam ukuran batas-batas kesanggupannya.
6.   Setiap ekosistem memiliki sifat yang khas disamping yang umum dan secara bersama-sama dengan ekosistem lainnya mempunyai peranan terhadap ekosistem keseluruhannya .
7.   Setiap ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat, waktu dan masing-masing membentuk basis-basis perbedaan di antara ekosistem itu sendiri sebagai pencerminan sifat-sifat yang khas.
8.  Antara satu dengan yang lainnya, masing-masing ekosistem juga melibatkan diri untuk memilih interaksinya pula secara tertentu.

BAB III

PENUTUP


A. Kesimpulan

            Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka disimpulkan sebagai berikut :
1.      Secara biologis, habitat seringkali diibaratkan sebagai “alamat” atau tempat tinggal suatu organisme, sedangkan relung ekologi diibaratkan sebagai “profesi” atau “status fungsional” suatu populasi organisme di alamatnya. Kelentingan merupakan sifat dari suatu sistem yang memungkinkannya kembali pulih seperti keadaan semula (stabilitas) dan daya dukung lingkungan merupakan batas teratas dari pertumbuhan suatu populasi, di batas mana jumlah populasi itu tidak lagi dapat didukung oleh sarana, sumberdaya dan lingkungan yang ada.
2.      Homeostatis merupakan kemampuan ekosistem untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan, suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks sedangkan klimaks adalah tingkat akhir dari suksesi suatu komunitas tumbuhan, adalah tercapainya keseimbangan dengan keadaan lingkungan.
3.      Stabilitas dalam komunitas dapat mengembalikan stabilitas ke daerah yang terganggu adapun gangguan terhadap ekosistem dapat diakibatkan oleh alam dan aktivitas manusia.
4.      Aktivitas manusia dapat berakibat langsung pada lingkungan baik berupa aktivitas yang membawa dampak positif maupun negatif seperti pembakaran hutan dan pencemaran limbah.
5.      Di dalam ekosistem interaksi makhluk hidup (biotik) dengan lingkungannya (abiotik) akan mengikuti kaidah-kaidah alam.

B. Saran

            Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh maka penulis menyarankan :
1.      Kepada mahaiswa agar menjaga lingkungan disekitarnya karena sebagai manusia kita juga memegang peranan penting di dalam perkembangan ekosistem.
2.      Kepada mahasiwa agar memahami dan menghayati konsep tentang perkembangan ekosistem.

DAFTAR PUSTAKA


Anonim.2012.Ekologi Tumbuhan Ekosistem. http://pustakabiolog.files.wordpress. com/2012/10/bab-4-ekosistem-1.docx diakses 23 Februari 2013 pukul 20.30 WITA

Anonim.2012.Ekologi Tumbuhan Suksesi. http://pustakabiolog.files.wordpress. com/2012/10/bab-5-suksesi.docx diakses 23 Februari 2013 pukul 19.10 WITA

Fitri, Dwi Eka.2012. Klimaks. http://diwimothy.blogspot.com/2012/04/ klimaks.html diakses 23 Februari 2013 pukul 19.15 WITA

Hairad, Andika.2012.Dampak Kegiatan Manusia terhadap Lingkungan. http://andhikahairad.blogspot.com/2012/11/karya-tulis.html diakses 23 Februari 2013 pukul 19.20 WITA

Pradewa.2012.Tahap-Tahap Suksesi. http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012 /02/tahap-tahap-suksesi.html diakses 23 Februari 2012 pukul 19.34 WITA

Umar, Muhammad Ruslan.2010.Modul Bahan Ajar Ekologi Umum.Makassar: Universitas Hasanuddin